Sahut-sahutan suara puji-pujian kepada Tuhan semesta alam terdengar merasuk dalam dasar sanubariku, lewat gaung aksara masjid. Aku pulang dengan hati tentram. Tubuhku yang suci, seluruh tubuhku terbalut kecuali pada telapak dan wajahku.
"Assalamu’alaikum, aku pulang!!", aku tersenyum seraya menutup pintu sambil melihat wajah ayah. "Wa’alaikumussalam…baru pulang Ti ?!", jawab ayah sambil melirik ke wajahku, ia meneruskan membaca buku dan dengan melemparkan sedikit senyum padaku. "Sini Kak, kakak pasti lapar", adikku Tari yang baru kelas 4 SD menyela, menarikku ke ruang makan. Dia terlihat ceria sekali. Nenek yang berada di atas kursi roda tersenyum melihat polah kami. Lengkungan senyum pun menghiasi wajahku. Aku suka dengan keluargaku yang penuh kedamaian, aku suka rumah ini, rumah yang penuh sinar rohani. Alhamdulillah.
…………………………………………………………………………….
Jelang siang ini, raut mentari mengisyaratkan titik panas mulai tersebar, namun belum mengubah sisa embun yang menempel di dedaunan. Dengan langkah ceria aku, Zeda dan Halley pulang dari Aliyah (SMU) menyusuri persawahan yang luas. Kami melangkah dengan penuh canda. Sekumpulan pemuda bermotor berpapasan dengan kami, mereka mengumbar senyum. "Eh, jangan dilihat terus, ini zina mata!!!!", kataku pada kawanku sembari menunduk dan melengkungkan senyum.
Di pematang ini aku berpisah dengan kawanku, berjalan terus menuju jarak terdekat dengan rumahku. Sampai pada jalan yang lebih lebar, ada dua orang pemuda di dekat pohon, mereka mengeluh karena sekuternya rusak. "hey…Ti mau pulang ya…tolongin abang ya, plis deh!", kata salah satu pemuda itu dengan logat merayu dan mendekatiku. "Tolongin gimana bang ?", jawabku tenang. "Ane mo pinjem uang dua puluh rebu aja, besuk abang pasti ganti deh buat motor ane…..ye Ti, tolongin abang ye!!!", desaknya. Aku pun tak kuasa menolak. Entah mengapa aku simpati dengan pemuda itu. "ehm… aku Agil lom tau
kan
??, besuk kubalikin di rumahmu, ini dech harmonikaku buat tebusan", kata pemuda itu. Aku hanya terdiam dan mengangguk, sebagai pertanda mulai suka…………
Alun nada bersemayam dalam melodi trisna, memeluk gita gempita sesak jiwa mengaduh dan berteriak memenuhi emosi, emosi akan pilar yang mulai terbangun dengan ‘rasa’. Sejak malam menjelang aku terus memandangi harmonika ini, perlahan kucoba meniup…….kejauhan terdengar siulan balasan harmonika. Kupandang dari kamar lotengku kebawah lewat jendela. Bang Agil melihatku seraya memainkan harmonikanya. Lekas aku turun.
"Ya ampun Bang Agil, ngapain malem-malem ke sini besuk
kan
bisa…???", tanyaku penasaran. "Ehm, abang gak tau kenapa abang kangen ma Titi", balasnya sedikit tersipu. Aku terdiam dan memandang matanya. "Ti jika kamu tersenyum kamu cantik", katanya tulus. "Ti………..", suara ayah terdengar lemah dari dalam membuyarkan suasana. "Bang besok aje ye…..", aku menyela dan mendorongnya.
……………………………………………………………………………………………………..
Keesokannya di sudut depan rumah.
"Ti ni uangnya, eh besuk kita janji ketemu di tempat kita pertama kali bertemu ya", rayu Bang Agil sambil mengedipkan satu bola matanya, dia kembali menggoda.
"Eh, gak usah bang, Titi udah ikhlasin kok…..eh…..ya udah deh insya Allah kita ketemu besuk", aku menjawab dengan penuh keraguan, tidak tahu benih rasa ini muncul kembali, namun wajah ayah tidak bersahabat, dengan segera ia menegur, "Ti, cepat masuk !!!"
……………………………………………………………………………………………………..
Aduh rasa yang timbul ini berubah menggila, entah ketika dua insan berbeda nyaris selalu terukir trisna, dan ini terbukti. Kini aku berada di boncengan sekuternya dan kami-pun berputar mengelilingi pematang. Suasana juga mendukung. Aku….aku….lalai.
Tiba-tiba sebuah sedan menghentikan kami, menghadang tengah jalan. Dua orang laki-laki datang dan langsung menghantam Bang Agil, hingga jatuh ke lumpur, seorang lagi menarik paksa aku ke dalam mobilnya. Aku meronta,"Yah, jangan sakiti Bang Agil, kasihan Yah", teriakku, aku menangis. "Sudah ayah bilang jangan berteman dengan berandalan macam dia !!",balas ayah. Dua orang suruhan ayah kemudian pergi.
……………………………………………………………………………………………………..
Sudah beberapa hari ini aku termenung, termenung akan hasrat yang hampir terputus. Aku terdiam di samping jendela, melihat suasana dibawah. Terlihat ayah begitu sayang dengan adikku. Terlintas di pikiranku untuk meninggalkan rumah ini, karena rasa ini sudah tidak tertahankan lagi. Ini adalah cinta pertamaku. Adikku yang kusayang, begitupula dengan nenek, kutinggalkan. Demi perasaanku terhadap Bang Agil dan keegoisan ayah, aku rela ini semua………..
"Sudah siap Ti??", tanya Bang Agil. Aku hanya mengangguk perlahan, merasa bersalah apa yang baru kulakukan. "Sekarang coba sekali saja aku pengen tau wajahmu tanpa jilbab, sekali saja…..bener deh sekali saja….ayo!!", pernyataan Bang Agil membuatku merasa tersambar petir. Aku hanya menggeleng perlahan. "Ayo…..!", desaknya. Secara sadar dan tak berlogika aku memenuhi keinginannya, mungkin ini karena bukti cintaku padanya. Aku merasa dialah sebagai penunjuk dan penggantung tonggak hidupku sekarang, walaupun hubungan kami belum resmi. Sekuter butut pun berlari mengukur jalan demi jalan mengiringi langkah kami.
Jelang tengah malam kami terhenti, di sudut tepi trotoar
kota
,
"Hari yang menyenangkan ya ??", tanya Bang Agil sambil menegak bir. Aku hanya diam dan mengangguk, pikiranku mulai terbebani akan dosa, dosa pada diri sendiri dan orang tua, dan akupun takut untuk pulang. "Minumlah ini enak kok….ayo jangan ragu-ragu", tegasnya. Aku menepis tanda menolak. "Ayo minum Ti….ayo ini enak kok", entah mengapa aku tak kuasa lagi menolak, pikiranku semakin kalut. "Bbe…hhh", aku tak bisa menelannya, tapi paksaan mulai menyesakkan leher. Pikiranku kian tak menentu, dadaku terasa panas, dan pandanganku kosong, Ya Allah dosa apalagi yang kuperbuat. Di tengah pikiran kalutku Bang Agil menyodori batang rokok, aku raih dan mulai menghisapnya……
Esoknya aku terbangun, aku tidak tahu berada dimana, suatu tempat yang sangat asing. Ku lihat sekeliling, di tempat ini banyak poster rocker, jelas bukan rumahku karena dihiasi oleh untaian kaligrafi. Dan…….argh….aku terlelap di tempat ini tetapi hanya selimut yang membungkusku. Rambut yang dulu tertutup jilbab kini kian tak rapi. Astagfirullahaladziem.
Dengan pikiran yang keruh aku menuju teras rumah, kulihat sekeliling. Sekarang aku berada di pemukiman kumuh pinggir sungai. "Sayang, ini sarapannya nasi bungkus….", kata Bang Agil membuyarkan lamunanku, secara spontan aku menampar wajahnya, "Kurang ajar, abang telah menghancurkan kehormatanku", aku terisak dan tetes air mata mulai jatuh di pipiku. Bang Agil meratap memegang pipinya dan berhasil mendinginkan amarahku.
……………………………………………………………………………………………………..
Sepuluh bulan sudah aku bertahan di sini, karena aku takut bertemu ayah, sekarang aku bukanlah putrinya yang baik-baik. Si jabang bayi kini telah lahir dan sekarang aku benar-benar tahu sifat Bang Agil. Rumah tangga kami selalu diwarnai keributan seolah tiada kasih sayang, kecuali pada anakku. Belakangan ini kami selalu kesulitan ekonomi, entah untuk membayar cicilan kontrakan dan untuk membeli susu anakku.
"Ti, boleh ya aku minta cincin ini, ehm buat usaha abang?", tanya suamiku. "Eh jangan, ini cincin pemberian ibu. Kemarin abang khan sudah aku kasih kalung, dimana…..pasti untuk mabuk-mabukan, benar
kan
?", jawabku kesal. "Tidak Ti, usaha yang kemarin abang rintis hancur total, tolong ini untuk kita Ti !", tegasnya berusaha meyakinkanku. Sekali lagi aku tidak kuasa menolak permintaannya. Satu-satunya barang berhargaku telah kuberikan pada suamiku. Dalam hati ini memohon pada Allah supaya aku termasuk orang yang diselamatkan.
Suatu hari Bang Naryo, tetangga kami datang ke rumah, menagih cicilan kontrakan yang selama ini telat tiga bulan. Dia mendesakku dan merapat ke dinding. "Eh jangan kurang ajar", hardikku. "Heh..ayo bayar, kalau tidak kamu gantinya !!!", kata dia sambil menahan hasrat birahi. Tetapi usahanya berhasil dicegah suamiku.
……………………………………………………………………………………………………..
Masalah keluarga kami kian tiada habisnya, terutama masalah ekonomi. Aku juga tidak tahu harus bagaimana. Bang Agil bekerja pada siang hari, pulang bawaannya marah-marah melulu. Aku tetap mencoba untuk bersabar.
"Ayo lah Ti…..jika tidak begini, kita tidak mungkin mampu mencukupi kebutuhan hidup kita, dan kita akan mati sia-sia", pintanya.
"Abang selain menghancurkan masa depan Titi, juga menghancurkan kehormatan Titi", teriakku kesal, emosiku kian tak terbendung. Aku kemudian berlari masuk ke mobil yang siap membawaku…..Suami bejatku hanya memandang mobil hingga lenyap dari pandangan. Dingin menusuk tulang terasa di atas jembatan malam ini.
Pagi ini aku membawa cukup banyak uang, seperti hasil kerja dua tahun. Aku bergumam sendiri bahwa akulah ibu bejat yang rela menjual diri. Waktu kulihat wajah suamiku, aku benci…..benci sekali. Kulemparkan uang itu tepat pada wajahnya, "Abang puas sekarang ha………."
Beberapa malam selanjutnya keadaan tetap sama, tetapi kebencianku padanya semakin bertambah. Aku malu, malu sekali pada diriku sendiri. Aku meratap kenapa Tuhan selama ini belum menolongku. "Abang…..abang tidak tahu perasaan Titi……", aku menangis dihadapannya, namun suamiku seolah tak peduli. Sampai pada suatu saat, ada sebuah mobil pelanggan mendekat,
Aku tetap masuk pada mobilnya, sambil melaju, aku menangis sambil kulirik wajahnya dan……..ternyata………dia adalah temanku sendiri, "Oooh jadi selama ini kamu menghilang hanya…..hanya untuk jadi pelacur hina, kamu…..kamu salah menilai aku Ti……..cepat keluar……..aku selama ini mencarimu Ti…..", suaranya yang keras penuh emosi…serak kini terputus. Aku berlari setelah mobilnya berhenti, aku tak terkejar. Aku menangis………menangis dengan sangat, dan malu…….malu sekali, rasa ini tak tertahan. "Ti…..aku mencintaimu…..", suaranya di kejauhan masih ku dengar
Aku memutuskan pulang, kembali ke hadapan suamiku. Saat aku mulai membuka pintu kamar, tak disangka suamiku sendiri…..tidur dengan wanita lain. Mereka terperanjat dengan kedatanganku, dan wanita itu kemudian pergi. Anakku hanya tergeletak di kereta ayunan tiada yang mengurus. Dada ini kian panas, tak sedikit katapun kulontarkan pada suamiku. Dengan segera kupeluk anakku. Masih bisa amarah ini kutahan…….
Oh jiwa…….hati ini hancur merepih. Luluh lantaknya tak sanggup terganti. Saat rembulan malu tahu wajahku yang hina, sinar…..masih terasa walau renggutnya batang. Rembulan yang eksotisnya hilang……rembulan yang kini kian jauh pandang. Mungkin ‘cinta’ itu adalah tipuan seorang……
Kututup malam ini…………
……………………………………………………………………………………………………..
"Ti mau kemana……..ayo balik Ti………", teriak Bang Agil memecahkan keheningan pagi. Lewat depan rumah mereka, banyak warga kampung yang melihat pertengkaran kami. Langkahku terhenti, aku hanya melihat anakku yang dalam gendongan. "Bang, Titi gak kuat kalau hidup seperti ini", sambungku lirih. Suamiku tertawa, "Ha..ha……Ti abang mencintaimu…..Ti, ayo balik. Abang bangga sekali…..bangga punya istri seperti kamu……abang bangga telah membalas ayahmu yang sombong itu…….bangga…….ternyata anak keturunan baik-baik bisa menjadi anak yang hina…..cuiih….!!!!", sambungnya penuh luapan kegirangan. Aku kini tak peduli. Aku pun terus pergi…….
Hanya berbekal sebuntel tas berisi pakaian seadanya, aku dan anakku dalam gendongan, melangkah tak tentu arah. Aku berharap Tuhan memberi petunjuk, selama ini aku telah meninggalkannya. Pikiranku tak jelas, aku tak punya tujuan.
Lelah dan peluh membatasi perjalanan kami, ku lihat masjid besar di ujung. Kukuatkan lagi kaki melangkah, aku pun teringat diriku beberapa masa yang silam. Aku duduk diam dan mulai mendengarkan khotbah, di teras masjid. Aku merasa hina untuk masuk. Tak terasa air mata ini menetes. Ya Allah bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan, namun aku masih duduk sambil memeluk anakku. Diam membatu.
Khotbah telah usai, aku pun terus berjalan tak tahu arah. "Eh…adik kenapa? ayo masuk ke masjid", seorang wanita paruh baya dengan ramah menyapaku. Wanita itu mengenakan mukena. "Tapi…saya tidak bisa bu…..", jawabku lirih.
Lewat Bu Fatimah, wanita itu, Allah menyelamatkanku. Beliau terus membimbingku. Aku telah menceritakan semua apa yang telah aku alami selama ini. Aku diberinya sepasang mukena dan kini aku berjilbab lagi, Kami selalu ke masjid bersama. Hati ini menangis ketika kalimat-kalimat suci dikumandangkan, sambil bersujud bibir ini bergetar dan mengucap "hamba bertaubat ya Allah…………………….taubattannasuha……". Sayup-sayup cahaya illahi kian terpancar.
"Ti, sudah waktunya kamu untuk pulang pada ayahmu Ti", kata Bu Fatimah dengan ramah. "Tapi Titi belum siap Bu", jawabku ramah. Rona terang wajahku yang barusaja musnah, perlahan muncul kembali, "Titi menunggu saat menjelang Idhul Fitri, Bu!", Kupandangi wajah anakku dalam pelukan, perlahan kulingkarkan alisnya.
……………………………………………………………………………………………………..
Allahuakbar…..Allahuakbar……Allahuakbar. Laillahailallahu Allahuakbar. Allahuakbar walillahilhamd. Gema takbir terdengar, agung, mengisi keheningan jelang malam. Kupandangi bintang, berkedip tanpa henti. Awan pun tak ada. Rembulan juga merona dengan sinarnya. Mereka semua berdzikir dan bertakbir kepada Tuhan semesta alam.
Tak terasa telah sampailah aku di depan rumahku, rumahku yang telah lama kutinggalkan. Aku terhenti sejenak. Dari belakang tiba-tiba Tari muncul dan menggenggam tanganku,"Kak, kakak selama ini kemana, Tari kangen, ayo pulang Kak, ayah menunggu", katanya sambil menarikku masuk. Teman-temannya pun memandangi kami sambil membawa obor.
"Yah…Nek…..kakak pulang!!!", teriak Tari. Terlihat Ayah dan seorang laki-laki lain terhenyak berdiri dari kursi teras. Nenek pun menangis bahagia, sambil menggendong buyutnya di atas kursi roda. Aku berlari dan bersujud di samping kaki ayah,"Yah maafin Tari, Tari khilaf Yah………", aku menangis sesenggukan. "Sudah, berdirilah……..", ayah juga tak kuasa menahan tangis,"Kamu memang salah nak, tapi ayah lebih salah lagi membiarkanmu begini. Setiap hari ayah selalu berdoa semoga kamu pulang Nak. Sejak ibumu meninggal kamu memang kurang kasih sayang nak", sambung ayahku seraya memelukku. Alhamdulillah. "E…..ini pasti cucu ayah, ayo eyang gendong !", kata ayah membuatku tersipu. Kulihat lelaki ini adalah temanku waktu di mobil dulu. Aku melengkungkan senyum di hadapannya.
……………………………………………………………………………………………………..
Selamat datang wahai jiwa yang suci dan diliputi cahaya, ribuan puji-pujian kupanjatkan ke hadirat-Nya, untuk membasuh luka masa lalu dengan embun di masa ini. Sebuah garis yang mengantarkanku ke palung dosa terdalam kini lenyap. Aku telah menemukan titik yang jauh lebih terang. Aku sekarang telah menikah dengan seorang laki-laki sholeh, sedangkan belakangan aku tahu Bang Agil masuk penjara karena terlibat narkoba. Selamat menikmati hidangan Allah duhai hamba yang suci……………..TAMAT.
Oleh : Irawan Setyabudi
Terinspirasi dari
sebuah film layar kaca "Jalan Pulang"
26 Januari 2006
***********************************************************************************