bahasa

June 12th, 2007 by iwan-art-c-tech

dari seorang sahabat bertanya:

> hayooo. ini ada sedikit pertanyaan…
>
> “manusia itu diciptakan pertama kali
> oleh Allah SWT adala nabi Adam AS, lalu
> diciptakan lagi untuk teman hidupnya
> Hawa, dari tulang rusuk kirinya…”,
> pastinya untuk berinteraksi sama teman
> hidupnya dia punya bahasa khan? kira2
> bahasa apakah yang dipakai??? kalau
> emank bahasa pertama didunia ini adalah
> bahasa arab seperti yang diceritakan
> dalam sebuah “Buku”,mreka berinteraksi
> dengan tuhannya dengan bahasa arab,,,
> kenapa dijaman sekarang banyak sekali
> bahasa yang terdapat didunia ini???? dan
> dari lafalnya saja sangat
> berbeda-beda…. kenapa g ada sjarah
> yang mengungkapkan atau mengulas kenapa
> perbedaan itu bisa trjadi??? bukankah
> manusia ini sangat terkenal dengan “g
> mau repot”, masa dalam persebaran
> manusia mereka mengubah-ubah alat
> komunikasi mereka??? apakah manusia
> diciptakan prtama kali tak bisa bicara
> satu sama lain, hanya menggunakan bahasa
> isyarat saja?!? sehingga terjadi
> penciptaan bahasa yang berbeda oleh
> cucunya???
>
> pertanyaan ini sebenarnya sangat bodoh
> untuk dipertanyakan, tapi apa salah nya
> bila ada yang bisa menjawabnya bukan…
> apabila petanyaan itu terjawab bukankah
> sangat baik untuk mempertebal keimanan
> seseorang… i need the answer!!! so
> apabila ada yang bisa mnjawabnya kirim
> messag ke ane, ok??!! di tunggu, coz ane
> dah mentok, udah pernah nanya , malah
> dibilang orang kafir!!!! hhhhh… gitu
> aja deh ^_^ thanx seblumnya bagi yang
> udah baca n mau ngejawab,

jawaban :

Terima kasih atas kecermatan & kearifan Anda.Insya Allah atas petunjuk-Nya aku mencoba menjawab, manusia memang diciptakan oleh Allah berbangsa dan bersuku supaya saling mengenal, sedangkan bahasa arab adalah bahasa manusia biasa. Mengapa? karena mewakili hanya satu daerah saja yaitu arab, tetapi ada satu bahasa yang mirip dan memiliki makna vertikalitas adalah bahasa Tuhan yang berada di dalam Al-qur’an. Anda tentu tahu alif dalam bahasa Al-qur’an disimbolkan garis berdiri, itu makna hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, contoh lagi huruf ba’ disimbolkan garis lengkung horizontal dan dibawahnya ada titiknya. Makna simbol huruf ini adalah hubungan horizontal antara manusia dan kearifan holistiknya. Sedangkan mengapa ada jutaan bahasa di dunia??? itu karena terjadi akulturasi budaya manusia, tempat yang berbeda & sejarah waktu yang terus maju, tetapi ada gradasi bahasa tiap daerah. Misalnya bahasa nusantara adalah bhs Indonesia, sedangkan Malaysia adalah Melayu, masih ada kesamaan. Untuk itu perlu satu kesatuan bahasa dunia yaitu bahasa inggris, bukan bahasa arab seperti jaman ibnu sina yang katanya jaman dark age dulu, dulu bahasa arab sempat menjadi bahasa gaul orang eropa lho, pas jaya-jayanya bangsa arab dengan khasanah ilmu pengetahuan. Namun bahasa inggris menjadi bahasa global setelah bangsa eropa menjajah dunia. Eh bahasa Indonesa g sempat jd bahasa dunia ya….?

Bookmark and Share

asal angka phi pada luas lingkaran

June 3rd, 2007 by iwan-art-c-tech

Sebuah lingkaran yang memiliki pusat titik ditengah, memiliki suatu keistimewaan. Berdasarkan kuliah dari dosen mengarahkan pemahaman logika seperti ini. Angka 22/7 atau 3.14 untuk menghitung luas lingkaran (phi dikalikan r kuadrat) memiliki sejarah :

Bahwasanya angka ini adalah peninggalan dari nabi Ibrahim kepada kita. Angka 22, dalam Al-qur’an adalah surat Al-Hajj. Kita tahu bahwa rute thowaf haji mengelilingi ka’bah adalah dari kiri ke kanan berjumlah 7 kali. Kita juga membuat lingkaran dari arah kiri ke kanan, khan??? dan berpusat pada suatu titik. Nah, ini adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri. coba perhatikan hal-hal sederhana di sekitar kita dan mencari kearifan menurut akal. Hal yang istimewa adalah ilmuwan barat tidak mengetahuinya. Jika kamu sudah mengetahui, tularkan ilmu itu kepada orang lain…….

Bookmark and Share

Konsepsi Keindahan Wanita

April 8th, 2007 by iwan-art-c-tech

Dalam
konteks arsitektur dibahas tentang ada perbedaan yang dominan antara
ruang publik dan privat. Ruang publik dapat diakses oleh orang banyak
atau bahkan semua orang, sedangkan ruang privat hanya dapat diakses
oleh si pemilik bangunan. Kita dapat mengambil contoh pada rumah
tradisional jawa joglo (pendopo). Rumah ini tersusun oleh bentuk
geometri persegi yang mana pada bagian dalam terdapat bentuk persegi
yang lebih kecil ukurannya. Pada bagian luar terdapat kolom dengan
jumlah dua belas buah, sedangkan pada bagian dalam hanya terdapat
empat buah dan ukuran kolom atau tiang yang lebih besar. Di sini
terdapat nilai keistimewaaan. Pada zona bagian dalam selain dipilih
ukuran kolom yang besar, juga dari bahan yang berkualitas yaitu kayu
pohon jati, ditambah ukiran-ukiran yang indah dan tidak sembarangan.

Mengapa
zona dalam begitu diperhatikan? Mengapa bangunan tersebut memakai
jumlah kolom empat buah bukan lima, tiga dst.? Zona dalam atau privat
memiliki nilai yang lebih tinggi, karena menyangkut nilai simbolik
dan fungsional dari pemiliknya. Angka empat pada rumah tradisional
jawa memiliki nilai simbolis yang diajarkan oleh salah satu
walisongo, Sunan Kalijaga, dalam mendakwahkan nilai Islam. Empat
dalam Al-qur’an, dapat diambil nomor juz, surat, atau ayat. Juz dan
ayat empat itu banyak sehingga kurang terdefinisi, sedangkan surat ke
empat adalah An nisa’ atau wanita. Wanita memiliki sebuah ruang
yang sangat privat adalah rahim. Secara terminologi bahasa rahim
berasal dari Ar-rahim (Yang Maha Penyayang). Bila dialiterasikan ke
bahasa Indonesia dan jawa dapat berarti rumah atau omah. Omah itu
bentuk lain dari ummat. Maka rumah adalah tempat privat sebagai
tempat tinggal dari ummat.

Bila
kembali pada tempat privat seorang wanita / rahim, memiliki suatu
nilai yang amat tinggi. Bagaimana tidak? Rahim merupakan tempat
tinggal janin yang aman. Ketika janin itu tinggal dia tidak merasakan
goncangan yang lebih dan stabil. Dia tidak merasakan kerasnya dunia
luar. Di dalam si janin merasakan adanya kasih sayang dari seorang
ibu yang terhubung oleh plasenta, ketika sudah besar dan plasenta itu
lepas, maka antara ibu dan anak tetap terhubung oleh ikatan
metafisik. Contoh lain adalah rahim yang menyimpan sel telur.
Spermatozoid yang jumlahnya mencapai milyaran berenang menuju sel
telur yang jumlahnya satu dan diam di dalamnya. Sel telur yang berada
di ruang privat menyeleksi sperma melalui enzim yang dihasilkan tubuh
sampai hingga spermatozoid yang berhasil dan selamat hanya satu buah
dan menembus dinding sel telur.

Demikianlah
nilai filosofis tentang wanita dan hubungan publik-privat menurut
kajian islam. Mengapa wanita adalah jenis kedua ? Karena islam
menghargai nilai privat dari wanita yang harus dilindungi dan dijaga
sesuai fitrohnya dengan adanya gradasi dari luar ke dalam, bahwa
semakin ke dalam memasuki area yang semakin privat.

>> materi perkuliahan perkim

Bookmark and Share

Sayup-sayup Cahaya Illahi

April 1st, 2007 by iwan-art-c-tech

Sahut-sahutan suara puji-pujian kepada Tuhan semesta alam terdengar merasuk dalam dasar sanubariku, lewat gaung aksara masjid. Aku pulang dengan hati tentram. Tubuhku yang suci, seluruh tubuhku terbalut kecuali pada telapak dan wajahku.

"Assalamu’alaikum, aku pulang!!", aku tersenyum seraya menutup pintu sambil melihat wajah ayah. "Wa’alaikumussalam…baru pulang Ti ?!", jawab ayah sambil melirik ke wajahku, ia meneruskan membaca buku dan dengan melemparkan sedikit senyum padaku. "Sini Kak, kakak pasti lapar", adikku Tari yang baru kelas 4 SD menyela, menarikku ke ruang makan. Dia terlihat ceria sekali. Nenek yang berada di atas kursi roda tersenyum melihat polah kami. Lengkungan senyum pun menghiasi wajahku. Aku suka dengan keluargaku yang penuh kedamaian, aku suka rumah ini, rumah yang penuh sinar rohani. Alhamdulillah.

…………………………………………………………………………….

Jelang siang ini, raut mentari mengisyaratkan titik panas mulai tersebar, namun belum mengubah sisa embun yang menempel di dedaunan. Dengan langkah ceria aku, Zeda dan Halley pulang dari Aliyah (SMU) menyusuri persawahan yang luas. Kami melangkah dengan penuh canda. Sekumpulan pemuda bermotor berpapasan dengan kami, mereka mengumbar senyum. "Eh, jangan dilihat terus, ini zina mata!!!!", kataku pada kawanku sembari menunduk dan melengkungkan senyum.

Di pematang ini aku berpisah dengan kawanku, berjalan terus menuju jarak terdekat dengan rumahku. Sampai pada jalan yang lebih lebar, ada dua orang pemuda di dekat pohon, mereka mengeluh karena sekuternya rusak. "hey…Ti mau pulang ya…tolongin abang ya, plis deh!", kata salah satu pemuda itu dengan logat merayu dan mendekatiku. "Tolongin gimana bang ?", jawabku tenang. "Ane mo pinjem uang dua puluh rebu aja, besuk abang pasti ganti deh buat motor ane…..ye Ti, tolongin abang ye!!!", desaknya. Aku pun tak kuasa menolak. Entah mengapa aku simpati dengan pemuda itu. "ehm… aku Agil lom tau

kan

??, besuk kubalikin di rumahmu, ini dech harmonikaku buat tebusan", kata pemuda itu. Aku hanya terdiam dan mengangguk, sebagai pertanda mulai suka…………

Alun nada bersemayam dalam melodi trisna, memeluk gita gempita sesak jiwa mengaduh dan berteriak memenuhi emosi, emosi akan pilar yang mulai terbangun dengan ‘rasa’. Sejak malam menjelang aku terus memandangi harmonika ini, perlahan kucoba meniup…….kejauhan terdengar siulan balasan harmonika. Kupandang dari kamar lotengku kebawah lewat jendela. Bang Agil melihatku seraya memainkan harmonikanya. Lekas aku turun.

"Ya ampun Bang Agil, ngapain malem-malem ke sini besuk

kan

bisa…???", tanyaku penasaran. "Ehm, abang gak tau kenapa abang kangen ma Titi", balasnya sedikit tersipu. Aku terdiam dan memandang matanya. "Ti jika kamu tersenyum kamu cantik", katanya tulus. "Ti………..", suara ayah terdengar lemah dari dalam membuyarkan suasana. "Bang besok aje ye…..", aku menyela dan mendorongnya.

……………………………………………………………………………………………………..

Keesokannya di sudut depan rumah.

"Ti ni uangnya, eh besuk kita janji ketemu di tempat kita pertama kali bertemu ya", rayu Bang Agil sambil mengedipkan satu bola matanya, dia kembali menggoda.

"Eh, gak usah bang, Titi udah ikhlasin kok…..eh…..ya udah deh insya Allah kita ketemu besuk", aku menjawab dengan penuh keraguan, tidak tahu benih rasa ini muncul kembali, namun wajah ayah tidak bersahabat, dengan segera ia menegur, "Ti, cepat masuk !!!"

……………………………………………………………………………………………………..

Aduh rasa yang timbul ini berubah menggila, entah ketika dua insan berbeda nyaris selalu terukir trisna, dan ini terbukti. Kini aku berada di boncengan sekuternya dan kami-pun berputar mengelilingi pematang. Suasana juga mendukung. Aku….aku….lalai.

Tiba-tiba sebuah sedan menghentikan kami, menghadang tengah jalan. Dua orang laki-laki datang dan langsung menghantam Bang Agil, hingga jatuh ke lumpur, seorang lagi menarik paksa aku ke dalam mobilnya. Aku meronta,"Yah, jangan sakiti Bang Agil, kasihan Yah", teriakku, aku menangis. "Sudah ayah bilang jangan berteman dengan berandalan macam dia !!",balas ayah. Dua orang suruhan ayah kemudian pergi.

……………………………………………………………………………………………………..

Sudah beberapa hari ini aku termenung, termenung akan hasrat yang hampir terputus. Aku terdiam di samping jendela, melihat suasana dibawah. Terlihat ayah begitu sayang dengan adikku. Terlintas di pikiranku untuk meninggalkan rumah ini, karena rasa ini sudah tidak tertahankan lagi. Ini adalah cinta pertamaku. Adikku yang kusayang, begitupula dengan nenek, kutinggalkan. Demi perasaanku terhadap Bang Agil dan keegoisan ayah, aku rela ini semua………..

"Sudah siap Ti??", tanya Bang Agil. Aku hanya mengangguk perlahan, merasa bersalah apa yang baru kulakukan. "Sekarang coba sekali saja aku pengen tau wajahmu tanpa jilbab, sekali saja…..bener deh sekali saja….ayo!!", pernyataan Bang Agil membuatku merasa tersambar petir. Aku hanya menggeleng perlahan. "Ayo…..!", desaknya. Secara sadar dan tak berlogika aku memenuhi keinginannya, mungkin ini karena bukti cintaku padanya. Aku merasa dialah sebagai penunjuk dan penggantung tonggak hidupku sekarang, walaupun hubungan kami belum resmi. Sekuter butut pun berlari mengukur jalan demi jalan mengiringi langkah kami.

Jelang tengah malam kami terhenti, di sudut tepi trotoar

kota

,

"Hari yang menyenangkan ya ??", tanya Bang Agil sambil menegak bir. Aku hanya diam dan mengangguk, pikiranku mulai terbebani akan dosa, dosa pada diri sendiri dan orang tua, dan akupun takut untuk pulang. "Minumlah ini enak kok….ayo jangan ragu-ragu", tegasnya. Aku menepis tanda menolak. "Ayo minum Ti….ayo ini enak kok", entah mengapa aku tak kuasa lagi menolak, pikiranku semakin kalut. "Bbe…hhh", aku tak bisa menelannya, tapi paksaan mulai menyesakkan leher. Pikiranku kian tak menentu, dadaku terasa panas, dan pandanganku kosong, Ya Allah dosa apalagi yang kuperbuat. Di tengah pikiran kalutku Bang Agil menyodori batang rokok, aku raih dan mulai menghisapnya……

Esoknya aku terbangun, aku tidak tahu berada dimana, suatu tempat yang sangat asing. Ku lihat sekeliling, di tempat ini banyak poster rocker, jelas bukan rumahku karena dihiasi oleh untaian kaligrafi. Dan…….argh….aku terlelap di tempat ini tetapi hanya selimut yang membungkusku. Rambut yang dulu tertutup jilbab kini kian tak rapi. Astagfirullahaladziem.

Dengan pikiran yang keruh aku menuju teras rumah, kulihat sekeliling. Sekarang aku berada di pemukiman kumuh pinggir sungai. "Sayang, ini sarapannya nasi bungkus….", kata Bang Agil membuyarkan lamunanku, secara spontan aku menampar wajahnya, "Kurang ajar, abang telah menghancurkan kehormatanku", aku terisak dan tetes air mata mulai jatuh di pipiku. Bang Agil meratap memegang pipinya dan berhasil mendinginkan amarahku.

……………………………………………………………………………………………………..

Sepuluh bulan sudah aku bertahan di sini, karena aku takut bertemu ayah, sekarang aku bukanlah putrinya yang baik-baik. Si jabang bayi kini telah lahir dan sekarang aku benar-benar tahu sifat Bang Agil. Rumah tangga kami selalu diwarnai keributan seolah tiada kasih sayang, kecuali pada anakku. Belakangan ini kami selalu kesulitan ekonomi, entah untuk membayar cicilan kontrakan dan untuk membeli susu anakku.

"Ti, boleh ya aku minta cincin ini, ehm buat usaha abang?", tanya suamiku. "Eh jangan, ini cincin pemberian ibu. Kemarin abang khan sudah aku kasih kalung, dimana…..pasti untuk mabuk-mabukan, benar

kan

?", jawabku kesal. "Tidak Ti, usaha yang kemarin abang rintis hancur total, tolong ini untuk kita Ti !", tegasnya berusaha meyakinkanku. Sekali lagi aku tidak kuasa menolak permintaannya. Satu-satunya barang berhargaku telah kuberikan pada suamiku. Dalam hati ini memohon pada Allah supaya aku termasuk orang yang diselamatkan.

Suatu hari Bang Naryo, tetangga kami datang ke rumah, menagih cicilan kontrakan yang selama ini telat tiga bulan. Dia mendesakku dan merapat ke dinding. "Eh jangan kurang ajar", hardikku. "Heh..ayo bayar, kalau tidak kamu gantinya !!!", kata dia sambil menahan hasrat birahi. Tetapi usahanya berhasil dicegah suamiku.

……………………………………………………………………………………………………..

Masalah keluarga kami kian tiada habisnya, terutama masalah ekonomi. Aku juga tidak tahu harus bagaimana. Bang Agil bekerja pada siang hari, pulang bawaannya marah-marah melulu. Aku tetap mencoba untuk bersabar.

"Ayo lah Ti…..jika tidak begini, kita tidak mungkin mampu mencukupi kebutuhan hidup kita, dan kita akan mati sia-sia", pintanya.

"Abang selain menghancurkan masa depan Titi, juga menghancurkan kehormatan Titi", teriakku kesal, emosiku kian tak terbendung. Aku kemudian berlari masuk ke mobil yang siap membawaku…..Suami bejatku hanya memandang mobil hingga lenyap dari pandangan. Dingin menusuk tulang terasa di atas jembatan malam ini.

Pagi ini aku membawa cukup banyak uang, seperti hasil kerja dua tahun. Aku bergumam sendiri bahwa akulah ibu bejat yang rela menjual diri. Waktu kulihat wajah suamiku, aku benci…..benci sekali. Kulemparkan uang itu tepat pada wajahnya, "Abang puas sekarang ha………."

Beberapa malam selanjutnya keadaan tetap sama, tetapi kebencianku padanya semakin bertambah. Aku malu, malu sekali pada diriku sendiri. Aku meratap kenapa Tuhan selama ini belum menolongku. "Abang…..abang tidak tahu perasaan Titi……", aku menangis dihadapannya, namun suamiku seolah tak peduli. Sampai pada suatu saat, ada sebuah mobil pelanggan mendekat,

Aku tetap masuk pada mobilnya, sambil melaju, aku menangis sambil kulirik wajahnya dan……..ternyata………dia adalah temanku sendiri, "Oooh jadi selama ini kamu menghilang hanya…..hanya untuk jadi pelacur hina, kamu…..kamu salah menilai aku Ti……..cepat keluar……..aku selama ini mencarimu Ti…..", suaranya yang keras penuh emosi…serak kini terputus. Aku berlari setelah mobilnya berhenti, aku tak terkejar. Aku menangis………menangis dengan sangat, dan malu…….malu sekali, rasa ini tak tertahan. "Ti…..aku mencintaimu…..", suaranya di kejauhan masih ku dengar

Aku memutuskan pulang, kembali ke hadapan suamiku. Saat aku mulai membuka pintu kamar, tak disangka suamiku sendiri…..tidur dengan wanita lain. Mereka terperanjat dengan kedatanganku, dan wanita itu kemudian pergi. Anakku hanya tergeletak di kereta ayunan tiada yang mengurus. Dada ini kian panas, tak sedikit katapun kulontarkan pada suamiku. Dengan segera kupeluk anakku. Masih bisa amarah ini kutahan…….

Oh jiwa…….hati ini hancur merepih. Luluh lantaknya tak sanggup terganti. Saat rembulan malu tahu wajahku yang hina, sinar…..masih terasa walau renggutnya batang. Rembulan yang eksotisnya hilang……rembulan yang kini kian jauh pandang. Mungkin ‘cinta’ itu adalah tipuan seorang……

Kututup malam ini…………

……………………………………………………………………………………………………..

"Ti mau kemana……..ayo balik Ti………", teriak Bang Agil memecahkan keheningan pagi. Lewat depan rumah mereka, banyak warga kampung yang melihat pertengkaran kami. Langkahku terhenti, aku hanya melihat anakku yang dalam gendongan. "Bang, Titi gak kuat kalau hidup seperti ini", sambungku lirih. Suamiku tertawa, "Ha..ha……Ti abang mencintaimu…..Ti, ayo balik. Abang bangga sekali…..bangga punya istri seperti kamu……abang bangga telah membalas ayahmu yang sombong itu…….bangga…….ternyata anak keturunan baik-baik bisa menjadi anak yang hina…..cuiih….!!!!", sambungnya penuh luapan kegirangan. Aku kini tak peduli. Aku pun terus pergi…….

Hanya berbekal sebuntel tas berisi pakaian seadanya, aku dan anakku dalam gendongan, melangkah tak tentu arah. Aku berharap Tuhan memberi petunjuk, selama ini aku telah meninggalkannya.  Pikiranku tak jelas, aku tak punya tujuan. 

Lelah dan peluh membatasi perjalanan kami, ku lihat masjid besar di ujung. Kukuatkan lagi kaki melangkah, aku pun teringat diriku beberapa masa yang silam. Aku duduk diam dan mulai mendengarkan khotbah, di teras masjid. Aku merasa hina untuk masuk. Tak terasa air mata ini menetes. Ya Allah bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan, namun aku masih duduk sambil memeluk anakku. Diam membatu.

Khotbah telah usai, aku pun terus berjalan tak tahu arah. "Eh…adik kenapa? ayo masuk ke masjid", seorang wanita paruh baya dengan ramah menyapaku. Wanita itu mengenakan mukena. "Tapi…saya tidak bisa bu…..", jawabku lirih.

Lewat Bu Fatimah,  wanita itu, Allah menyelamatkanku. Beliau terus membimbingku. Aku telah menceritakan semua apa yang telah aku alami selama ini. Aku diberinya sepasang mukena dan kini aku berjilbab lagi, Kami selalu ke masjid bersama. Hati ini menangis ketika kalimat-kalimat suci dikumandangkan, sambil bersujud bibir ini bergetar dan mengucap "hamba bertaubat ya Allah…………………….taubattannasuha……". Sayup-sayup cahaya illahi kian terpancar.

"Ti, sudah waktunya kamu untuk pulang pada ayahmu Ti", kata Bu Fatimah dengan ramah. "Tapi Titi belum siap Bu", jawabku ramah. Rona terang wajahku yang barusaja musnah, perlahan muncul kembali, "Titi menunggu saat menjelang Idhul Fitri, Bu!", Kupandangi wajah anakku dalam pelukan, perlahan kulingkarkan alisnya.

……………………………………………………………………………………………………..

Allahuakbar…..Allahuakbar……Allahuakbar. Laillahailallahu Allahuakbar. Allahuakbar walillahilhamd. Gema takbir terdengar, agung, mengisi keheningan jelang malam. Kupandangi bintang, berkedip tanpa henti. Awan pun tak ada. Rembulan juga merona dengan sinarnya. Mereka semua berdzikir dan bertakbir kepada Tuhan semesta alam.

Tak terasa telah sampailah aku di depan rumahku, rumahku yang telah lama kutinggalkan.  Aku terhenti sejenak. Dari belakang tiba-tiba Tari muncul dan menggenggam tanganku,"Kak, kakak selama ini kemana, Tari kangen, ayo pulang Kak, ayah menunggu", katanya sambil menarikku masuk. Teman-temannya pun memandangi kami sambil membawa obor.

"Yah…Nek…..kakak pulang!!!", teriak Tari. Terlihat Ayah dan seorang laki-laki lain terhenyak berdiri dari kursi teras. Nenek pun menangis bahagia, sambil menggendong buyutnya di atas kursi roda. Aku berlari dan bersujud di samping kaki ayah,"Yah maafin Tari, Tari khilaf Yah………", aku menangis sesenggukan. "Sudah, berdirilah……..", ayah juga tak kuasa menahan tangis,"Kamu memang salah nak, tapi ayah lebih salah lagi membiarkanmu begini. Setiap hari ayah selalu berdoa semoga kamu pulang Nak. Sejak ibumu meninggal kamu memang kurang kasih sayang nak", sambung ayahku seraya memelukku. Alhamdulillah. "E…..ini pasti cucu ayah, ayo eyang gendong !", kata ayah membuatku tersipu. Kulihat lelaki ini adalah temanku waktu di mobil dulu. Aku melengkungkan senyum di hadapannya.

……………………………………………………………………………………………………..

Selamat datang wahai jiwa yang suci dan diliputi cahaya, ribuan puji-pujian kupanjatkan ke hadirat-Nya, untuk membasuh luka masa lalu dengan embun di masa ini. Sebuah garis yang mengantarkanku ke palung dosa terdalam kini lenyap. Aku telah menemukan titik yang jauh lebih terang. Aku sekarang telah menikah dengan seorang laki-laki sholeh, sedangkan belakangan aku tahu Bang Agil masuk penjara karena terlibat narkoba. Selamat menikmati hidangan Allah duhai hamba yang suci……………..TAMAT.

Oleh : Irawan Setyabudi

Terinspirasi dari

sebuah film layar kaca "Jalan Pulang"

26 Januari 2006

***********************************************************************************

Bookmark and Share

dark spot at sunshine

March 23rd, 2007 by iwan-art-c-tech

In this time, I write again ’bout my mind
on time letter
I felt guilty to her.
At past, when i did rendezvous with her
I said to keep love as long as I can
But she said to give up……

Again, I feel wanna die
I was not able to become her lover again
I was not anyone who came from future
And will bring her in my brilliant dream
but I’m just like a mutt, really…..

Now, separated heart approach into myself
In this annual day, i hope some resolution
which bring mine to better live
my soul, save yer live like others by yerselves, OK?
I can’t meet yer smile again
Thx for yer time, n acceptin’ my apologies
still, I wish I can to yer future man
c you in next true time

Bookmark and Share

Cerpen : rangkaian mawar putih (2003)

March 1st, 2007 by iwan-art-c-tech

cerpen :

RANGKAIAN MAWAR PUTIH


 

 
 

S

 

enja mulai
merayap turun, ketika Rachel masih asyik bersandar disamping mobil BMW biru
methalic hadiah dari papa di hari ulang tahunnya yang ke-20 kemarin. Semilir
angin pantai mengoyak-oyak rambutnya yang hitam dan tergerai
lembut
. Rachel memang tergolong cewek yang centil, cuek, manis, sportif, sedikit manja dan baju yang super
modis.

Tapi
kali ini tidak, Rachel berubah seratus delapan puluh derajat, dia mulai menjadi
gadis yang pendiam, melankolis, murung dan tidak suka bergaul karena
sepeninggal Ryan dua tahun silam.

Rachel
terus mengamati cincin yang melingkar di jarinya
manisnya
, dua tahun lalu Ryan yang melingkarkan cincin itu di jarinya. Hari itu adalah hari yang membahagiakan di ulang tahun Rachel.

“Selamat
Ulang Tahun El”,
suara
Ryan lembut seraya mengecup
kening Rachel dan memakaikan cincin itu.

“Makasih Yan”,balas Rachel sambil tersenyum.

Tak
terasa air mata Rachel meleleh membasahi pipinya yang halus seperti pipi bayi
itu. Betapa tidak, pantai itu mempunyai arti yang dalam bagi Rachel karena
setiap akhir pekan Rachel dan Ryan selalu menghabiskan waktu mereka di pantai
ini. Tapi kini Rachel sendiri, bahkan Rachel telah melewatkan dua kali ulang
tahunnya tanpa ada Ryan.

Pukul tujuh malam mobil Rachel yang
baru memasuki halaman rumahnya.

“Dari mana saja kamu El?, mama Rachel mencemaskan
keadaannya.

“Main ke pantai Ma!”, jawab Rachel dengan muka lesu.

“Kok sampai malam begini, khan besok kamu harus kuliah
El?”, mama Rachel menambahi. Rachel diam tak bergeming.

“Yah, sudahlah sekarang kamu istirahat

sana

!”, akhirnya mama mengakhiri
pertanyaannya.

Pagi
itu kampus mulai ramai dengan mahasiswanya. Terlihat Dilla berdiri di depan
perpus dengan senyum khasnya.

“Hai
El, waduh mobil kamu baru yach?”, sapa Dilla.

“Idih,
kamu kok tau aja sih Dil, emangnya kamu selalu nguntit kemanapun aku pergi
yach?”,jawab Rachel.

“Yee…
kamu El, kalo aku nggak tau fakta dan fiktifnya di kampus ini bukan Dilla
namanya”,kata Dilla sanbil tertawa kecil.

“Huu…dasar
biang gosip”, Rachel membalas kata-kata Dilla sambil tersenyum lebar.

“Eh…El,
kenapa sih akhir-akhir ini kamu terlihat murung, seperti orang nggak kesampaian
naksir cowok. Padahal siapa sih cowok di kampus ini yang nggak mau ama kamu?,
celoteh Dilla.

“Bukan
masalah itu Dil, tapi sampai saat ini aku belum bisa ngelupain Ryan”, Rachel
menundukkan kepala ke lantai.

“El…El,
sudahlah Ryan adalah bagian dari masa lalumu, masih banyak Ryan yang lain asal
kamu mau membuka diri untuk mereka!”, kata Dilla menimpali.

“Nggak
semudah itu Dil!”, kata Rachel tertahan, ada sesuatu di relung hatinya yang
paling dalam yaitu cintanya pada Ryan yang tak akan pernah padam. Bagaimana
tidak, Ryan adalah sosok cowok yang ideal buat Rachel. Ryan orangnya romantis,
humoris, penyayang, dan pema’af, dialah orang yang paling bisa mengerti Rachel.

Tapi
kini ….ah Ryan kenapa bayangmu selalu menggangguku dan kenapa cintaku padamu
semakin dalam, padahal dua tahun sudah kita tak bersama lagi, keluh Rachel
dalam hati.

Kring….!!Kring…..!!

Telpon
di kamar Rachel berdering saat dia tiduran sepulang dari kampus, dengan
bermalas-malasan Rachel mengangkat telpon itu.

“Hallo!”
Rachel mulai menyapa

“Hallo,
Rachel ?”, suara dikejauhan terdngar datar dan berat.

“Oh…Valley
yach, ada apa Ley?”, tanya Rachel lagi.

“Ah…ngga’
pa-pa, aku cuma mo’ minta ma’af, karena waktu itu…eh pas kamu ultah, aku nyuruh
temen-temen buat ngerjain kamu El. Soalnya aku ingin kasih kamu surprise yang
ngga’ bakal kamu lupain”,

kata

 

Valley

meminta ma’af dengan nada yang agak
gemetar dan perkataan yang tersendat-sendat.

“Udahlah
Ley, aku ngga’ marah ama kamu, justru aku berterima kasih karena kamu telah
membuat keceriaan di hari ultahku”, kata Rachel.

“Oh…iya
El, aku ingin kamu tau satu hal”,

suara

 

Valley

tertahan dan menghilang agak lama.
Rachel jadi agak penasaran dan agak deg-degan juga nunggu

kata-kata

 

Valley

selanjutnya.

“El….aku….aku…ingin
kamu tau…..bahwa….bahwa…..em….aku sudah lama…”, suara itu terhenti dan tak
berkelanjuan.

“El….aku
sayang kamu”,

suara

 

Valley

bergetar dan mengakhiri percakapannya
dengan tiba-tiba.

Tut…tut…tut…terdengar
nada putus dari seberang, tapi Rachel masih bengong dengan

ucapan

 

Valley

barusan, dan tanpa sadar Rachel masih
menempelkan gagang telpon di telinganya, lalu kemudian meletakkannya.

Rachel
memang mengetahui dari

Dilla

 

bahwa

 

Valley

naksir ama Rachel. Dan Rachel-pun
sebenarnya memiliki rasa suka pada Valley.

Tapi….ah
entahlah lagi-lagi bayangan Ryan menyelubungi perasaannya.

“Oh…tidak,
aku tak bisa menduakan cinta Ryan, walau aku juga punya perasaan suka terhadap
Valley”, bisik Rachel pada dirinya sendiri.

Rachel
menjatuhkan diri di tempat tidurnya sambil memandangi foto Ryan yang masih
setia menghiasi dinding kamarnya.

Seminggu
lagi Ryan berulang tahun”, kata Rachel dalam hati.

Rachel
terus menatap foto Ryan dengan haru, dia teringat dua tahun yang lalu saat Ryan
akan berangkat kuliah di Amerika.

“El,
aku akan pergi ke San Fransisco untuk melanjutkan studiku disana, maukah kau
mengantarku ke bandara esok?”,kata Ryan.

“Tentu
Yan….tentu aku akan mengantarmu”, jawab Rachel.

Saat
itu mata mereka saling berpandang sendu, pilu, berpadu menjadi satu, karena
esoknya mereka akan berpisah entah untuk berapa lama.

Tangan
Ryan meraih jemari Rachel, dingin seperti tak bernyawa, dan Rachel mersakan
genggaman tangan Ryan seperti guratan embun di pagi yang maya. Itulah senja
yang terakhir mereka bersama.

Saat
Rachel, mama, dan papa Ryan berada di bandara, mereka semua merasa akan
kehilangan sesuatu.

“El….entah
mengapa aku merasakan kalau kita tidak akan bertemu lagi”, kata Ryan.

“Demi
Tuhan Yan, jangan katakan itu”, jawab Rachel sambil menyeka air matanya yang
mulai bergulir.

Ah…….sadarkah
Ryan dengan apa yang dicapkannya barusan, sesuatu hal yang membuat Rachel
bertambah sedih. Rachel tampak semakin gelisah.

“El……aku
ingin kamu selalu menjaga cincin pemberianku, karena hati dan cintaku ada
didalamnya”, ucap Ryan sedih.

Untuk
beberapa saat kemudian Ryan berpamitan pada mama, papa juga Rachel, sebelum dia
menuju pesawat yang akan membawanya pergi utuk selama-lamanya di hari yang naas
itu. Entah mengapa perasaan Rachel saat itu juga mengatakan bahwa dia tidak
akan pernah melihat Ryan lagi.

Malam
harinya papa Ryan menelpn Rachel, papa Ryan bilang bahwa pesawat yang akan
menuju ke San Fransisco diana Ryan ada didalamnya mengalami kecelakaan, karena
cuaca buruk pesawatnya menabrak tebing dan terpelanting masuk hutan. Seluruh
awak pesawat dan seluruh penumpangnya tewas seketika. Dan kini sedang dikirim
tim SAR beserta pesawat angkut untuk membawa jenazah para penumpang. Rachel
seketika lunglai dan terduduk lemas di lantai, betapa terpuklnya Rachel sampai
dia tidak bisa berkata apa-apa untuk bebebrapa setik lamanya, lalu kemudian
Rachel mulai menangis dan menjerit memanggil sebuah nama “Ryaaaa…….nnnn”.Itulah
kejadian dua tahun silam yang tak mungkin Rachel lupakan.

Pagi
yang cerah, dimana hari seharusnya Ryan berulang tahun yang kedua puluh dua
seandainya Ryan masih hidup.

“Yan….hari
ini kamu berulang tahun”, suara Rachel lirih.

Rachel
menuju meja belajar di pojok kamarnya dan membuka laci dimana didalamnya
terdapat foto-foto Rachel dan Ryan yang tampak mesra.

“Yan….aku
masih menyimpan semua kenangan kita”, ucap Rachel sedih.

Tapi
tiba-tiba

bayangan

 

Valley

berkelebat datang ke dalam hatinya.
Rachel mulai gelisah dan bingung karena dia juga belum tega menggeser posisi Ryan
didalam hatinya. Rachel sempat tertegun sejenak sebelum dia memutuskan sesuatu
untuk masa depannya.

Kemudian
Rachel mengambil secarik kertas dan dia mulai menulis

surat

untuk Ryan.

“Untuk Ryan tersayang…….

Yan…..jika engkau izinkan aku ingin
membasuh kekeringan di hatiku dengan embun kasih sayang dari kabut di hari
esok, dan bukan dari kabut di hari lalu yaitu tetesan embun darimu. Dan kini
ada seseorang yang menawarkan hatinya padaku untuk membuat warna baru dalam
hidupku.

Yan….betapa pilu sebenarnya aku
melakukannya, tapi aku tak mungkin terbelenggu oleh kehidupanmu yang tak nyata.

Yan…ma’afkan aku, aku berjanji tak
akan pernah melupakanmu dan tak akan pernah melupakan kenangan kita, semoga kau
bisa merasakan, mendengar dan melhat ketulusan hatiku, walau kita berada di
alam yang berbeda”.

Rachel
bergegas pergi menuju ke makam Ryan, sesampainya disana Rachel meletakkan
rangkaian bunga mawar putih dan selembar

surat

diatas pusaranya.

Sambil
mengusap air mata Rachel berkata “SELAMAT ULANG TAHUN SAYANG”

TAMAT

 

 

disusun ulang oleh : Irawan Setyabudi ( II-5 /25)

   dari N. Shovita 

 

Bookmark and Share

____Sepatah sajak 1# : Bangsa kita negeri hiburankah ?_____

August 4th, 2006 by iwan-art-c-tech

Fakta menunjukkan bahwa kita sekarang terjebak pada gemerlap dunia hiburan,
bukan hanya menjadi keperluan tapi kebutuhan.

Bila kita melihat adanya peristiwa setiap harinya pasti disibukkan dengan
berita infotainment yang merebak di setiap stasiun televisi. Mulai pagi hingga
ujung, 07.00 info selebriti
       07.30 berita pagi (jarang liat!!)
       09.00 kabar plus
       15.00 kabar-ka****
       20.00 info lage
       22.30 Lage-lage info
       23.59 seekalee lagee infoo

ini mengupas kehidupan selebriti, dari buka mata sampai lahat. Berita
perceraian pun menjadi ajang hiburan (asyik juga sih). Di sisi lain sinetron juga
berperan mengubah sisi sosial, terutama anak kecil (17-). Berita tentang discovery, penge-
tahuan kalah dengan hiburan. Jadi setujukah kalian dengan semua ini??? Menurutku
TV layaknya hama di masyarakat, banyak tidak untungnya dan harus dimusnahkan (skak mate).

Ada UU antipornografi malah diperdebatkan yang justru kita goblok mempertimbangkannya.
Sudah jelas. Itu hanya mereka saja yang mau jadi obyek. (Eh tapi enak dilihat lho).
Eh, tapi kecuali daerah tertentu……
(kita melihat perdebatan tersebut juga terhibur lho)

Seharusnya kita bercermin dari negara pembuat tv, dan bukan hanya pemakai saja. Di SD pernah
disinggung bahwa kebudayaan luar harus…… disaring (yang jelek kita terima & yang
bagus kita tolak). Ini bukan pesimis lho, tapi optimis tidak bisa.

Kita generasi muda yang suka bersolek seperti model sudah pasti kehilangan semangat seperti
orang tua atau kakek nenek kita. Para pria metroseksual yang seperti banci disibukkan dengan
penampilan dan sesuatu yang tidak berguna (sifatnya sementara sih, mati ga kebawa).
Mereka direkrut menjadi bintang. Andai sejarah berubah,
di jaman modern tentara sekutu kembali menyerang kita. Apa kita siap menghadapi?
jawabnya : "Semua pasukan berlindung !!!! hujan mau turun", sambil membenahi make up-nya.
(Payah pool)

Sekali lagi ini dari (fuc*ing) TV dan (god dam*) hiburan didalamnya. Musik turut andil dalam penghancuran selain mode.
Dengan musik, acara pencarian bakat dimulai mereka direkrut menjadi bintang. Ratusan hingga ribuan
orang datang berlomba untuk mewakili kotanya. Lalu apa sebenarnya kita punya bibit sebagai bangsa penghibur?

tapi aku merasa terhibur sih dengan itu…..

Mereka bilang, "Ah, ini kan seni, jadi biarkan dunk bebas berekspresi !!, tanpa seni kita bisa stress",
ok, pendapat diterima (penulis juga seniman / artist sih). Lalu apa konsekuensinya?
Apa merelakan rambut warna-warni (mad-man / rainbow-man ^_^), baju asimetris atau apa?

Kalian tentu berpikir, lalu apa sih yang penulis mau? Sebenarnya penulis juga merasa terhibur dengan
tulisannya yang memiliki pesan berkaca pada fakta (baca : fuc*-ta)
kejadian sehari-hari. Agar kita tidak saja menjadi
bangsa penghibur (maaf, memiliki hiburan yang pantas .red) tetapi juga memiliki feature.
Seperti sumber ilmu dan sebagai pioneer (seperti bung Karno). Sederhana khan? (^o^) V.
Trims.

n.b. : "eh ktinggalan, wanita penghibur (motherf***er) lom dibahas"

_________’my right brain, august 2006
Penulis adalah mhs archUB, jgn pelagiasi.

Bookmark and Share

Pesan Untuk Teman Lama

July 16th, 2006 by iwan-art-c-tech

Suatu masa telah berganti, kita flashback dulu.
Pernahkah kamu mendengar lirik project pop
"ingatkah hari ini", yang isinya mengatakan bahwa
saat kita beranjak dewasa, akan terjadi
perubahan seiring banyaknya kebutuhan, dan saat
kita bosan maka temanlah yang menemani kita
dalam suka dan duka. Teman memang adalah tempat
untuk saling memberi curahan hati. Namun saat kita
dewasa, satu persatu teman kita akan meninggalkan
kita karena kebutuhan kita dan dia berbeda.
Kebersamaan belum tentu bersama bukan? Hal
tersebut terjadi padaku. Sewaktu aku dan teman
saling berpisah karena kebutuhan (studi salah
satunya), aku mulai satu persatu mengingat
mereka, mencoba untuk berhubungan lagi antara
teman…….aku iseng saja menelpon dia,
kebetulan dia perempuan, sedang yang mengangkat
adalah laki-laki (pacar barunya .red), dia berkata
"nast* god dam* s*it motherfu*ker, heh kamu tahu
nomer ini drmn, fu*king as*y hole!!!!", lalu
saya tutup. Itulah kisah mengenaskan yang pernah
terjadi. Dude, gimmie reasons !!

Ada juga diantara teman yang sudah saling lupa,
bahkan  waktu ketemu dan di tengah percakapan "eh
ya namamu siapa yach???", although we’ll never
ever meet again n far away, don’t pass away our
friendship!!!

rethink it again!

then i concluse that’s all : kiss my assy ’bout
bestfriend, all must be bullshi*, don’t u????
Dude, I don’t care anything, i’ve to get new
friend everywhere n ready to forget them
everytime. it shall makes me excitin’ n fun.
i’ve given u reasons why it’s happen!

Sekarang aku pun mulai berusaha melupakan teman
lama, maafkan teman…..

all by myself
july 2006


Bookmark and Share

QuickPost | Friendster Blogs

June 14th, 2006 by iwan-art-c-tech

Link: QuickPost | Friendster Blogs.
REGEDIT4
[HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Internet Explorer\MenuExt\TypePad QuickPost]
@="http://blogs.www.friendster.com/t/app?__mode=reg_qp_js&qp_show=tb,ca,ac,ap,ew&qp_height=540"
"contexts"=hex:31

Bookmark and Share

Tentang Aku

June 14th, 2006 by iwan-art-c-tech

nah, ini dah berhasil bikin blog di friendster n baru pertama ngepost. Klo masi belum tau nama sebenarnya, aku Irawan Setyabudi, juz call me iwan, i-er, tiyo, si tampan atau whatever u say deh….
Kul di Arsitek Brawijaya tingkat 2. Kalo malem sering begadang, coz banyak tugas yang numpuk malah khusus akhir semester wajib gak mandi. Nah aku suka sesuatu yang gak penting, suka sedikit marah-marah, kadang diem aja, cari cewek gak pernah sukses dan kalo makan cuma sedikit (hoy stop-stop kok jadi curhat *.red). Eh tadi gak nyambung yah, Buaya_daratOk deh gitu aj dulu ada yg ngomel nih di sebelah…..

Nih di sebelah ada karikatur tentang aku (lelaki buaya darat)

Bookmark and Share